OSPEK YANG TIDAK BERFAEDAH ITU CUMAN BULLSH*T dan BAGAIMANA CARANYA OSPEK YANG IDEAL, MENARIK, SERTA BERMANFAAT

Salah satu ospek yang dilaksanakan di Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Beberapa minggu yang lalu pada bulan September 2020, Indonesia sempat dihebohkan dengan adanya video ospek yang viral dari FIP UNESA. Dalam video tersebut terdapat 3 mahasiswa senior yang menjadi panitia ospek terlihat marah-marah hanya karena masalah ikat pinggang. Tiga mahasiswa yang marah-marah tersebut merupakan mahasiswa dari seksi kedisiplinan.

Salah 2 dari 3 mahasiswa senior panitia ospek di FIP UNESA

Tetapi ada 1 hal yang membuat saya sempat bingung setelah melihat postingan di twitter dari akun @Alamsyart_ yang menyebutkan bahwa ada aturan pada ospek tersebut yang tertulis: “BEBAS MEMAKAI / TIDAK MEMAKAI IKAT PINGGANG”.


Cuitan twitter dari akun @Alamsyart_ dan gambar dari peraturan ospek di FIP UNESA

Banyak netizen Indonesia yang berkomentar tentang “senioritas” yang masih saja diterapkan pada ospek di FIP UNESA, ya saya pribadi juga berpendapat kalau “senioritas” itu sudah bukan masanya lagi. “Senioritas” banyak terjadi pas jaman-jaman feodal dulu, kalau di jaman sekarang ini “senioritas” masih diterapkan ya menurut saya sudah tidak tepat, karena saat ini bahkan orang yang lebih muda 2 tahun saja mungkin bisa lebih pintar dan cerdas daripada mereka yang mengaku-ngaku sebagai seorang senior.

Gak cuman masalah ikat pinggang saja, tapi masih banyak kibul-kibulan dari mahasiswa senior yang biasanya disampaikan pada saat ospek berlangsung. Berikut akan saya paparkan apa-apa saja bullsh*t yang biasanya mereka sampaikan kepada para maba yang masih unyu-unyu:

1. “Kalian itu manja banget ya, ospek ini tuh belum seberapa kalo dibandingkan dengan ospek pas jaman-jaman kami, kami itu dulu pas ospek lebih parah, tau gak?”

Ya terus gimana dong wahai kakak senior? Jadi kita harus menggunakan pintu ajaibnya doraemon untuk pergi ke jamannya kalian biar bisa ngerasain ospek gitu? Ya jelas gak mungkin dong, atau kita harus merasakan kembali masa-masa romusha dulu biar bisa dikatakan mental kita itu sudah sekuat baja, sehingga kalian gak akan lagi bilang kalau maba itu pada lembek-lembek mentalnya? Ya sudah jelas ini juga impossible. Lagian kalo menurut saya manja itu tidak ada hubungannya dengan ospek (ya tapi memang benar sih, sifat manja itu memang harus dihilangkan agar individu tersebut bisa tahan banting), “OSPEK itu sendiri kepanjangannya Orientasi Pengenalan dan Studi Kampus, bukan Orientasi Ketahanan Fisik dan Stamina” – Eno Bening. Kewajiban mahasiswa senior yang menjadi panitia saat ospek adalah untuk memperkenalkan apa saja lingkungan dan fasilitas kampus kepada para maba, bukan mengajarkan bagaimana caranya latihan militer.

2. “Kalian ini sekarang sudah menjadi mahasiswa, mana sifat disiplin kalian? Buang jauh-jauh itu mental anak SMA kalian!”

Justru kalau menurut saya pada masa-masa SMA itu lebih bisa dikatakan “disiplin” daripada saat sudah memasuki dunia kampus, kalau kita masuk sekolah telat apa yang terjadi? Pertama kita harus ke kantor kepala sekolah dulu, terus biasanya diberikan teguran/hukuman, baru setelah itu boleh masuk (bahkan ada yang lebih parah dimana murid yang telat harus menunggu diluar kelas sampai kelas mata pelajaran tersebut selesai). Sedangkan pada saat kuliah, kita kalau telat biasanya dosen masih memberikan kesempatan bagi mahasiswanyna untuk mengikuti kelas. Meskipun ada juga dosen yang memperbolehkan mahasiswa yang telat untuk masuk tetapi dosen tersebut tetap menganggap si mahasiswa itu “Alpha”, tapi setidaknya kita masih bisa mendapatkan ilmu dari dosen tersebut.

3. “Kalau kalian para maba tau, kami ini sebenarnya capek, kami sebenarnya juga gak mau ngelakuin ini. Ini semua mau kami lakukan demi kalian!”

Simple jawabannya, kalau para mahasiswa senior dari awal emang udah bakal ngerasain capek, yo rasah dilakoni, wes mending mundur wae dari kepanitiaan. Lagian banyak juga kok maba yang gak mau diospek khususnya oleh para mahasiswa senior yang niatnya ingin “balas dendam” dan menunjukkan “senioritas”-nya.

4. “Kalau kalian para maba tidak mengikuti UKM atau Organisasi Kampus, kalian kedepannya akan kesulitan mencari pekerjaan.”

Sebenarnya sudah tidak banyak UKM atau Organisasi di suatu kampus yang mengatakan hal ini, tetapi masih saja ada sedikit pengurus UKM atau Organisasi yang mengatakan hal seperti itu, karena apa? Supaya UKM atau Organisasi mereka itu bisa ramai dan diminati oleh banyak orang, kalau banyak peminatnya maka bantuan anggaran dana dari kampus bisa cepat turun. Masalah mengenai pekerjaan sendiri sebenarnya tergantung pada setiap pribadi orang itu sendiri, kalau dia gigih untuk mencari pekerjaan, maka dia kelak pasti akan mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai dengan apa yang sudah dia perjuangkan. Sedangkan kalau dia malas-malasan untuk mencari pekerjaan maka hasilnya ya sebaliknya. (Walaupun memang tidak bisa dipungkiri kalau di Indonesia masih banyak terjadi praktek KKN atau bantuan dari “orang dalam”, ups 😈)

5. “Kami marah-marah bukan berarti ini tuh “seniortias”, bukan kayak gitu. Ini semua kami lakukan agar mental kalian terbentuk, biar kalian tuh kedepannya bisa tahan banting.”

Ya memang benar kalau membentuk mental para maba dari awal itu penting biar kedepannya si maba tersebut bisa beradaptasi dengan situasi yang dihadapinya dan bisa mencari solusi atas situasi yang sedang dihadapinya tersebut. Tetapi, kalau memang ingin membentuk mental dari para maba, ya diusahakan agar tidak pernah menggunakan “senioritas” yang dimiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung. Maksudnya gimana secara langsung dan tidak langsung? Contohnya begini, untuk secara langsung “Saya ini mahasiswa senior di kampus ini, kamu itu cuman maba, hormati saya! Ikuti peraturannya!” Sedangkan untuk yang tidak langsung contohnya bisa seperti ada mahasiswa senior yang marah-marah gak jelas cuman karena hal sepele.


Nah terus lantas apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa senior yang menjadi panitia ospek agar ospeknya dapat berjalan dengan ideal? Berikut saya sampaikan cara agar kedepannya panitia ospek dapat menciptakan kegiatan ospek yang ideal, menarik dan sekaligus mendidik:

1.    Mendefinisikan Kembali Tujuan Organisasi

OSPEK merupakan fase transisi, mengenal, dan beradaptasi dari seorang siswa menjadi mahasiswa. Oleh karena itu diharapkan agar para mahasiswa senior yang menjadi panita ospek dapat membantu para maba untuk mempersiapkan dirinya agar siap menghadapi kultur kampus yang sangat berbeda dengan waktu dia masih duduk di bangku sekolah.

2.    Membentuk Mindset Panitia Teladan

Pelaksanaan kegiatan ospek yang ideal adalah tanpa menjadi ajang balas dendam bagi senior ke juniornya, tetapi faktanya diluar sana pelaksanaan kegiatan ospek malah menjadi ajang untuk balas dendam dari senior yang sebelumnya sudah pernah mengalami masa-masa kelam ospek kepada juniornya. Jadi hal pertama yang harus dilakukan adalah membentuk mental kepanitiaan dengan menanamkan kembali tujuan utama dari kegiatan ospek. Panitia ospek harus bisa sadar dan tahu bahwa tujuan dari kegiatan ospek adalah untuk membantu memperkenalkan lingkungan kampus kepada para maba. Kemudian langkah selanjutnya melakukan seleksi siapa saja yang boleh terlibat, seperti misalnya kepanitiaan ospek terdiri atas aktivis kampus, anggota UKM / Organisasi, rektorat, sampai petugas keamanan.

3.    Materi Bermanfaat

Materi yang wajib diberikan oleh panitia ospek untuk para maba wajib berfokus pada akademik dan non-akademik. Salah satunya pengenalan kampus, pengenalan organisasi, dosen, UKM, prestasi kampus, perencanaan studi, fasilitas kampus, sanksi akademis yang berlaku di kampus, serta mencakup softskill latihan kepemimpinan, kerja sama, dll yang berkaitan tentang kehidupan kampus.

4.    Batasi Ketegasan

Ketegasan dari panitia ospek itu memang penting. Para maba memang harus sedikit digalakkan agar mau mengikuti peraturan. Namun, bentuk ketegasan dari panitia ospek tidak boleh melebihi batas wajar, seperti mendorong secara kasar, membawa konteks “senioritas”, apalagi sampai melakukan sesuatu apapun yang bisa membahayakan nyawa dan keselamatan si maba.

5.    Perlu Pengawasan

Bukan hanya mahasiswa senior saja yang menjadi panitia ospek, tetapi pihak rektorat dan para dosen kampus juga perlu menjadi pengawas berlangsungnya kegiatan ospek. Kampus juga harus tahu karakter dan perkembangan ospek terhadap mahasiswa baru. Selain itu yang paling penting, menegur apabila ada panitia ospek yang melebihi batas serta ikut terlibat di dalam penyuluhan kampus.

6.    Follow Up

Setelah masa ospek sudah selesai, penting bagi para panitia ospek untuk memfollow up kegiatan ospek tersebut. Hal ini akan bermanfaat sebagai koreksi untuk kegiatan ospek pada tahun ajaran baru yang akan datang dan berefek pula pada mindset positif mahasiswa baru terhadap tugas dan tanggung jawab sebagai mahasiswa.


Demikian celotehan yang bisa saya sampaikan mengenai kasus OSPEK yang sempat viral pada bulan September 2020 lalu. Semoga di masa yang sudah serba online ini, kegiatan ospek dari masing-masing pihak kampus manapun di Indonesia dapat membuang jauh-jauh yang namanya “senioritas”. Terimakasih karena sudah sempat membaca celotehan ini di blog saya dan jangan lupa berkomentar kalau misalkan kamu punya saran atau sesuatu yang ingin disampaikan. Have a nice day!😆



Tidak lupa saya juga ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada berbagai sumber diantaranya:🙏

https://youtu.be/K_Xws3sESAU  -  Marah2 Online Panitia Ospek FIP UNESA 2020. Bikin Netizen Ngakak oleh Nadine Firaisha di Youtube pada 15 September 2020

https://youtu.be/VjIo796nJRM  -  5 Kebohongan Senior Pada Maba Di Kampus - #BukanSekolah oleh Eno Bening di Youtube pada 25 September 2018

https://www.tigaserangkai.com/id/?p=1448  -  Menciptakan Kegiatan Orientasi (MOS/OSPEK) yang Ideal dan Terpelajar oleh tsadmin di situs TIGASERANGKAI pada 9 Mei 2016


Komentar